Home » Cara Mengubah Fungsi HRD dari Sumber Pengeluaran Menjadi Sumber Pemasukan

Cara Mengubah Fungsi HRD dari Sumber Pengeluaran Menjadi Sumber Pemasukan

Orang-orang yang bekerja di bagian HRD atau Human Resource Development memiliki peran penting bagi perusahaan. Kerja dari departemen ini berhubungan langsung dengan karyawan atau pekerja yang ada di dalam perusahaan. Peran dari mereka adalah mengembangkan SDM agar perusahaan bisa berkembang dengan signifikan dan minim kerugian.

Sayangnya, departemen HRD sering dianggap sebagai lintah dari perusahaan itu sendiri. Pasalnya lembaga ini sering sekali menghabiskan banyak dana dan jarang sekali menghasilkan atau mendorong terjadinya keuntungan. Oleh karena itu, pemilik perusahaan harus mendorong fungsi HRD yang sebelumnya menjadi sumber pengeluaran, kini menjadi sumber pemasukan, begini caranya.

  1. Melakukan Rekrutmen Karyawan dengan Tepat

Karena HRD berhubungan langsung dengan karyawan, tugas dari departemen ini mulai dilakukan sejak terjadi rekrutmen pegawai. Saat melakukan penyeleksian, pihak HRD harus bisa mendapatkan kandidat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan melakukan ini, perusahaan tidak akan perlu banyak waktu untuk membuat karyawan baru dalam menyesuaikan diri.

Masalah lain yang sering dianggap sebagai sumber biaya adalah sistem rekrutmen yang panjang dan berbelit-belit. HRD harus bisa menyederhanakan sistem ini sehingga rekrutmen bisa berjalan lebih lancar, cepat, tepat sasaran, dan hemat biaya.

  1. Melakukan Pemeliharaan Aset dan Kontrol Kualitas

Salah satu cara untuk mempertahankan kualitas kerja atau mungkin alat untuk perusahaan produksi adalah dengan pemeliharaan aset. Pemeliharaan ini dilakukan untuk menghindari kerusakan yang lebih besar dan akan memberikan kerugian pada perusahaan secara masif.

Dalam departemen HRD, pemeliharaan ini juga bisa dilakukan dengan melihat kualitas kerja dari para pekerja yang ada di perusahaan. Kalau kualitasnya tetap baik seperti selalu datang tepat waktu dan pekerjaan selesai sesuai target, berarti perawatan tidak perlu dilakukan. Kalau ada pekerja yang agak melenceng, barulah diingatkan sebagai bagian dari perawatan aset agar tidak merugikan perusahaan.

  1. Mencatat dan Memberi Penghargaan pada Karyawan

Melalui catatan absensi hingga laporan dari manajer, pihak HRD bisa tahu mana saja pegawai yang berkualitas dan mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Pekerja yang selalu loyal dengan perusahaan dan mampu melakukan pekerjaannya dengan baik layak untuk mendapatkan insentif atau bonus.

Pemberian ini bisa diintegrasikan langsung dengan sistem payroll seperti Gaji.id. Dengan sistem ini HRD bisa dengan mudah memberikan penghargaan. Karyawan yang merasa dihargai kerja kerasnya juga akan semakin semangat untuk bekerja. Insentif tidak akan membuat perusahaan merugi, justru imbal baliknya yang diberikan karyawan jauh lebih besar.

  1. Melakukan Upgrading Pengetahuan

HRD juga bisa melakukan updgrading atau menambah pengetahuan dari semua karyawan atau beberapa karyawan terpilih. Cara ini dilakukan untuk menambah pengetahuan mereka terkait dengan perusahaan atau manajemen emosi yang mereka miliki.

Dengan melakukan ini situasi kondusif bisa diterapkan dan karyawan mendapatkan pengetahuan baru yang bisa diterapkan ke pekerjaannya.

  1. Menjaring Permasalahan yang Terjadi

Alasan utama dari pegawai yang malas kerja atau tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya adalah konflik dengan orang sekitarnya. Tugas dari HRD adalah melakukan penjaringan kalau ada masalah sehingga bisa segera diselesaikan. Degan melakukan ini peluang terjadi penurunan kualitas pekerjaan akan menurun dan provit dari perusahaan akan terjaga atau mungkin meningkat.

Nah, dari beberapa ulasan di atas, mana saja yang menurut Anda paling cocok untuk perusahaan dalam mendulang keuntungan? Semoga bisa menginspirasi Anda untuk mengubah HRD sebagai mesin pencetak provit besar bagi perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *