Home » Ini 5 Kriteria Tempat Kerja Idaman menurut Generasi Milenial

Ini 5 Kriteria Tempat Kerja Idaman menurut Generasi Milenial

Selama ini dunia kerja cenderung lekat dengan budaya hierarkal antara bos dengan karyawan, atasan dengan bawahan. Umumnya lingkungan kerja dengan iklim semacam ini didominasi oleh generasi X dan baby boomers.

Kehadiran generasi milenial lantas berhasil mendobrak tatanan kaku dalam dunia kerja. Orang-orang yang lahir antara tahun 1980-2000 dianggap lebih inovatif karena mereka tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Namun, beda generasi tentu saja beda selera. Milenials umumnya punya kriteria tempat kerja idaman dibandingkan para pendahulunya, antara lain:

1. Tidak Ada Hierarki

Jika generasi-generasi sebelumnya lebih banyak bekerja di tempat dengan kultur hierarkal yang kental, milenial justru sebaliknya. Mereka cenderung meniti karier di perusahaan yang bebas dari segala aturan kerja yang kaku dan barangkali sarat feodalisme.

Hierarki kerja ini salah satunya bisa dilihat dari interaksi antara atasan dengan bawahan. Milenial sebagai generasi yang potensial membawa perubahan perlu diberikan peluang untuk terus mengembangkan diri dengan bimbingan mentor—bukan bos.

Meski struktur organisasi perusahaan tetap ada, masing-masing pekerja memiliki kesempatan yang setara untuk bekerja sama berdiskusi, berkolaborasi, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tanpa ada unsur senioritas. Singkatnya, milenials bekerja dengan rekan atau atasannya layaknya seorang teman.

2. Anywhere and Anytime

Kemajuan teknologi memang secara langsung memengaruhi aktivitas manusia, termasuk dalam urusan menyelesaikan pekerjaan. Dengan berpedoman pada efisiensi waktu, tenaga, dan bahkan biaya, generasi milenial cenderung menyukai pekerjaan yang sifatnya anywhere and anytime alias bisa dikerjakan di mana saja dan kapan saja.

Saat ini, perusahaan yang sangat mungkin memenuhi kriteria ini adalah startup. Tidak heran jika sekarang perusahaan rintisan ini didominasi oleh anak-anak muda yang tergolong dalam generasi milenial.

3. Pemanfaatan Teknologi

Sebagai generasi yang tumbuh besar di bawah asuhan teknologi, milenials mengerti betul bahwa kecanggihan teknologi sangat berperan besar dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi pekerjaan mereka.

Milenials pun bebas terhubung dengan rekan, partner, atau klien kerjanya dari belahan dunia mana pun hanya dengan memanfaatkan aplikasi dan tools berbasis team collaboration seperti Glip, Slack, dan LINE.

4. Suasana Kantor yang Homey

Milenials tahu betul bahwa dirinya akan menghabiskan hampir seharian di tempat kerja untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Untuk itu mereka sebisa mungkin mencari kantor (tempat kerja) yang menawarkan suasana senyaman mungkin—layaknya rumah tinggal.

Sekarang sudah banyak perusahaan yang sadar betul soal kriteria ini. Tak heran saat ini kita bisa dengan mudah menemukan kantor-kantor yang didesain dengan konsep dan suasana yang homey—di mana karyawan tidak hanya bisa bekerja, tapi juga makan, minum, beristirahat, olahraga, bahkan bermain di sela-sela rutinitas.

5. Transparansi Kerja

Milenials cenderung lebih kritis dalam melihat persoalan dibandingkan generasi sebelumnya. Begitu pun dalam dunia kerja. Jika dalam lingkungan kerja para baby boomers keputusan diambil tanpa melibatkan staf, generasi milenial justru sebaliknya.

Didorong oleh keinginan mendapat transparansi kerja, milenials umumnya lebih berani untuk bertukar atau menyanggah pendapat yang menurutnya kurang sesuai dengan prinsipnya. Ya, transparansi seolah sudah menjadi budaya dalam setiap lingkup kerja para milenials.

Didukung kriteria tempat kerja idaman tersebut, kehadiran milenial tentu akan memberikan napas baru bagi perusahaan. Berbekal kompetensi dan kemajuan teknologi, mereka bisa menjadi aset berharga bagi perusahaan—selama diberi kesempatan untuk terus berkembang dan menempa diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *