Home » Karyawan Tidak Produktif, Apa Salahnya HRD?

Karyawan Tidak Produktif, Apa Salahnya HRD?

Performa serta kapabilitas karyawan menjadi modal utama demi suksesnya operasional perusahaan. Namun, dalam praktiknya produktivitas karyawan sering menurun, entah karena alasan pribadi atau lingkungan kerja yang tidak mendukung.

Memang, produktivitas erat kaitannya dengan integritas dan loyalitas masing-masing karyawan. Namun, sering kali sikap kerja yang tidak produktif tersebut bersumber dari lingkungan internal yang tidak mampu mendukung karyawan untuk memberikan kinerjanya dengan maksimal. Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan?

Nah, hal tersebut harus menjadi lampu merah pihak HRD untuk mengevaluasi kebijakan dan lingkungan kerja. Begitu ada tanda-tanda karyawan tidak produktif karena masalah internal, segera atasi permasalahannya. Lantas, apa saja isu HRD yang terkadang membuat karyawan kurang produktif?

Job Description dan SOP yang tidak jelas

Job description (jobdesc) berisi uraian tanggung jawab, wewenang, dan tugas yang dipikul karyawan. Jobdesc dan SOP inilah yang menjadi panduan karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Sayangnya, sering kali karyawan tidak mendapatkan jobdesc yang jelas. Alhasil, karyawan sering bingung mana yang harus dikerjakan, apakah rekannya boleh melimpahkan tugasnya, serta bagaimana tolok-ukur performanya dalam mengerjakan tugas?

Saking hilang arahnya, karyawan jadi tidak semangat bekerja atau justru mempertimbangkan untuk resign. Tentu banyak sekali dampak yang akan ditanggung perusahaan akibat jobdesc yang tidak jelas.

Jobdesc tidak hanya membantu karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Pihak HRD dan trainer pun bisa menjadikan jobdesc sebagai acuan untuk perekrutan serta memaksimalkan pelatihan karyawan agar hasil trainingnya dapat benar-benar terpakai saat bekerja.

Penghitungan upah lembur dan insentif sering meleset

Banyak karyawan yang menilai kredibilitas perusahaan dari komitmennya dalam membayarkan hak para karyawan. Tak hanya gaji, pembayaran upah lembur dan insentif pun menjadi faktor penentu kepercayaan karyawan pada perusahaan. Sayangnya, perusahaan terkadang kurang cermat dalam menghitung upah lembur karyawan, atau justru tidak membayar lemburannya sama sekali.

Kalau sudah menyangkut masalah gaji dan upah, perusahaan harus benar-benar serius dalam mengelola pembayarannya. Jangan sampai setiap bulan karyawan memikirkan untuk resign gara-gara pembayaran gaji dan upah yang sering macet.

Sarana dan prasarana kantor yang kurang memadai

Karyawan punya etos kerja dan integritas yang baik tidak akan mampu bekerja maksimal tanpa didukung sarana yang memadai. Sarana dan prasarana tersebut dapat berupa ruang kerja, ketersediaan alat tulis kantor, serta perangkat elektronik pendukung. Pihak HRD harus mampu memastikan kebutuhan karyawan di kantor terpenuhi agar performa mereka pun dapat terus digenjot.

Budaya kerja yang kurang positif

Budaya kerja yang buruk juga sering memicu munculnya sikap yang tidak produktif. Budaya kerja yang buruk dapat terlihat dari hubungan kerja sama antar karyawan yang kurang baik, suburnya konflik dalam lingkungan kerja, karyawan yang mudah masuk dan keluar, serta sikap atasan yang otoriter.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, karyawan bisa kehilangan semangat kerja dan kepercayaannya pada perusahaan. Pihak HRD tentu tidak boleh abai terhadap masalah ini jika tidak ingin masalah tersebut terjadi berlarut-larut.

Itulah beberapa penyebab karyawan tidak produktif yang menjadi tanggung jawab HRD. Selain melakukan perekrutan dan pelatihan untuk karyawan, tugas HRD yang tak kalah pentingnya adalah memastikan perusahaan berjalan sesuai dengan visi-misi serta tujuannya.

Untuk dapat mewujudkan cita-cita perusahaan, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, terutama karyawan agar mampu memberikan performa terbaik sesuai kapabilitasnya. Dalam hal ini, HRD berperan sebagai “induk” yang harus mampu mendidik anak-anaknya agar dapat berkembang bersama perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *